Teori Konspirasi Mengenai Penyakit

Teori Konspirasi Mengenai Penyakit

10 Teori Konspirasi Mengenai Penyakit yang Pernah Menghebohkan Dunia

Entahlah satu kebenaran atau mungkin tidak tentang Teori Konspirasi Mengenai Penyakit, rupanya dalam catatan riwayat. Setiap 100 tahun ada pandemi atau wabah mengagumkan besar yang menempa dunia.

Wabah itu ialah Pandemi Besar Marseille yang berlangsung pada 1720. Lantas Pandemi Kolera pada 1820 dan Flu Spanyol yang berlangsung pada 1920, dan yang paling akhir ialah Virus Corona 2020. Apa ini cuman satu kebenaran atau kah ada suatu hal di belakangnya?

Baca Juga: Rutinitas Tangan Malah Bahaya

Transisi pandemi besar 100 tahun itu berlangsung kembali. Kesempatan ini ialah wabah atau pandemi menakutkan yang membunuh beberapa orang di beberapa tempat di dunia.

Mulai dari Pandemi Marseille di Perancis sampai yang paling terkini ialah Virus Corona yang menempa Wuhan, China. Menariknya, beberapa claim yang berkembang selaku teori konspirasi menjelaskan jika ada peluang beberapa virus itu menyengaja ditebarkan oleh satu organisasi?

Bermacam faksi inovatif munculkan beragam macam tafsiran, teori, ringkasan, tesis, vonis bahkan juga fitnah dan hoax.

Selaku seorang insan pemula jelata yang lagi berusaha pelajari arti kemanusiaan di kehidupan umat manusia, saya individu rasakan arti religius dibalik gorden menakutkan pandemi penyakit menyebar.

Pandemi Corona menyadarkan diri saya sendiri jika pada hakekatnya diri saya cuman sosok makhluk hidup yang kurang kuat daya, kurang kuat jiwa dan kurang kuat raga jauh dari kesempurnaan.

Karena itu benar-benar tidak ada fakta untuk diri saya untuk berasa congkak hingga berlaku dumeh atau tinggi hati.

Demikian juga, mereka yang lagi bertakhta di singgasana kekuasaan, Insya Allah tersadarkan oleh pandemi Corona jika sesungguhnya kekuasaan mereka didapat dari rakyat karena itu tidak boleh mengkhianati kebutuhan rakyat khususnya rakyat yang papah dan miskin. Di atas langit masihlah ada langit.

Karena itu tiap 100 tahun Allah Yang Maha Kuasa menyadarkan umat manusia supaya selalu jaga diri semasing untuk selalu berlaku dan berperangai ojo dumeh, tidak boleh jumawa, tidak boleh tinggi hati, tidak boleh arogan, tidak boleh congkak berasa diri kita paling betul apa lagi paling berkuasa.

Kepercayaan yang didasari oleh sikap skeptis umumnya akan membuat Teori Konspirasi Mengenai Penyakit. Tetapi irasionalitas semacam itu kemungkinan mempunyai arah ringkas ada di belakangnya. Riset psikis memperlihatkan jika teori konspirasi umumnya berkaitan dengan arti cockamamie, yakni satu sikap untuk kurangi depresi sebab ketidakjelasan, menangani kondisi yang tidak teratasi,

  1. Orang Yahudi dikambinghitamkan atas pandemi Black Death

Black Death pernah memacu konflik sosial pertama yang pernah terdaftar dalam riwayat, menurut penulis John Kelly. Pandemi Hitam menempa Eropa pada era tengah. Tanda-tandanya berbentuk demam yang berbuntut ketidakberhasilan organ.

Sepanjang bentang empat tahun di era ke-14, 25 juta orang meninggal, angka yang sesuai dengan “nyaris 2 miliar nyawa” di tahun 2005. Waktu itu, manusia hadapi pandemi penyakit yang tidak pernah berlangsung awalnya. Orang Kristen kehilangan keyakinan pada kemanusiaan, sebab ada faksi tidak bertanggungjawab yang menebarkan rumor jika orang Yahudi berkolusi untuk membunuh orang Kristen.

Sentimen anti-Semit menebar seperti pandemi tersebut. Faksi berkuasa memenjarakan orang Yahudi dan memaksakan mereka untuk mengaku kebenaran teori konspirasi itu yang telah menebar kemana saja. Buku Sumber Riwayat Yahudi Kampus Fordham menguraikan masalah seorang Yahudi Genevan namanya Agimet. Di tahun 1348 dia jalani hukuman penjara dan alami penganiayaan sampai dia akui meracuni penyimpanan air umum atas perintah seorang rabi. Ketidakadilan semacam itu jadi justifikasi untuk pembantaian beberapa ribu orang Yahudi “di minimal dua ratus kota dan desa”.

  1. CIA dipandang membuat dan menebar virus HIV/AIDS

Di tahun 2003, dokter dan kontributor New York Times Lawrence Altman menyebutkan AIDS selaku wabah terjelek semenjak pandemi era ke-14. Altman memiliki pendapat jika tidak ada yang mengetahui kapan atau di mana pandemi selanjutnya akan berlangsung, atau apa pandemi itu berasal dengan alamiah atau bioteroris.

Banyak periset yang menjelaskan jika AIDS disebarkan dari monyet ke manusia di tahun 1930-an. Time menulis jika banyak pakar teori konspirasi memandang penyakit ini selaku pembunuh mekanisme kebal yang direkayasa oleh CIA yang mempunyai tujuan untuk menghancurkan golongan gay dan orang kulit hitam. Bahkan juga orang dibalik teori konspirasi ini terhitung pakar ekologi juara Hadiah Nobel Wangari Maathai dan bekas presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki.

Riwayat diskriminasi Amerika pada orang kulit hitam dan homoseksual sudah tumbuhkan tidak percaya pada pemerintahan, dan demografi wabah AIDS belum seutuhnya hilangkan keraguan beberapa orang berkaitan penyakit ini. Di tahun 2005, Washington Post memberikan laporan hasil survey pada 500 orang Afrika-Amerika, satu barisan sosial yang terserang imbas kronis AIDS. Lebih dari separuhnya yakin jika CIA “membuat dan menebarkan” HIV.

Beberapa pakar menjelaskan jika permasalahan intinya ialah intelijen.

  1. Golongan abolisionis dituding atas penyakit disentri yang dialami Presiden James Buchanan

Sepanjang tengah 1800-an, beberapa negara sisi tak pernah berpadu dalam permasalahan perbudakan, dan ada perseteruan mengakibatkan beberapa pihak yang bersimpangan sama-sama membenci keduanya. Menurut buku Panik in Washington, Undang-Undang Peluangas-Nebraska tahun 1854 membuat geram beberapa aktivis anti-perbudakan sebab undang-undang ini meluluskan perbudakan di daerah Barat yang baru. Tetapi, keaktifan golongan abolisionis tidak hentikan beberapa pemilih untuk pilih James Buchanan selaku presiden di tahun 1856.

Buchanan mengadu domba warga selama saat penyeleksian. Menurut Dewan Perwakilan Rakyat AS, beberapa orang yang menganggap selaku orang yang junjung tinggi perbudakan. Waktu acara pesta pelantikannya di National Hotel, kemelut mencapai puncak. Selang beberapa saat, penyakit yang tidak biasa – yang didiagnosa oleh dokter kekinian selaku disentri, tampil. Sampai 36 orang meninggal pada bulan-bulan selanjutnya, terhitung salah satunya sepupu Buchanan dan bekas gubernur yang pro perbudakan.

Penyakit itu menyerbu ke-2 kalinya di National Hotel. Beberapa ratus politikus, yang umumnya dari orang Selatan, terkena. Beberapa orang yang berprasangka buruk jika beberapa abolisionis sudah meracuni presiden dan simpatisan perbudakan yang lain. Koran-koran menebarkan ketakutan yang tidak berdasarkan. Tetapi teori konspirasi itu berkurang saat beberapa pakar mengaitkan jika penyakit itu berasal dari mekanisme sanitasi hotel yang jelek.

  1. Ada penyusup yang bawa penyakit Legiuner

Berlainan dengan penyakit tahun 1856, penyakit tahun 1976 tidak menyertakan seorang presiden tetapi berlangsung dalam suatu hotel di Pennsylvania Avenue. Waktu pakta Legiun Amerika diselenggarakan, pandemi yang tidak dikenali mengintervensi. Beberapa orang menanggung derita tanda-tanda yang intensif, seperti flu, berdasar laporan dari Washington Post. Tanda-tandanya cukup kronis seperti batuk, kedinginan, dan demam setinggi 107 derajat. Dalam masalah yang kronis, paru-paru pasien disanggupi cairan darah. Sebab oksigen terbatas, orang yang terkena penyakit ini dapat mati lemas.

Sebab penyakitnya banyak dialami beberapa Legiuner, orang menyebutnya “penyakit Legiuner.” Menurut Time, penyakit ini tidak dikenali pemicunya pada waktu itu. Mengakibatkan, tampil teori konspirasi. Sebagian orang menyangka jika ada orang asing yang menyerbu pakta itu. Seorang wakil dari Veteran Bangsal Luar Negeri ikut juga mendakwa jika terjadi perang “sayap kiri” pada veteran militer. Pada akhirnya kejadian itu dijumpai, yaitu berasal dari mekanisme pendingin udara hotel, sebagai inkubator bakteri Legionella.

  1. Inggris dipandang menebarkan cacar ke Amerika Serikat sepanjang Perang Revolusi

Public Radio International menerangkan jika penyakit cacar benar-benar memberatkan kesehatan Angkatan Darat Kontinental dalam Perang Revolusi. Inokulasi benar ada, tapi penjajah Amerika menampiknya. Menurut Thomas Jefferson Foundation, ada dua usaha untuk mengenalkan inokulasi ke Virginia di akhir 1760-an tetapi memacu protes yang seru. Beberapa penentang yang tidak senang malah membakar rumah seorang dokter.

Sesungguhnya, inokulasi tidak seutuhnya beresiko. Tetapi, bila dikerjakan dengan tidak betul, hal tersebut bisa menebarkan cacar lebih luas. Ada teori konspirasi yang mengatakan jika Inggris secara menyengaja mengontaminasi warga asli Amerika dengan selimut yang terkontaminasi cacar.