Beda Gejala COVID-19 dan Flu Biasa

Beda Gejala COVID-19 dan Flu Biasa, Jangan Takut Untuk bersin

Di periode wabahk, waktu ada tanda-tanda seperti flu beberapa orang langsung cemas apa itu flu biasa dan gejala infeksi COVID-19. Sampai sekarang, kemungkinan ada banyak orang yang tidak membandingkannya.

Keluh kesah bersin dapat membuat penderitanya tidak nyaman, bahkan juga berasa takut dengan kesehatannya. Beberapa orang disekelilingnya juga menjadi tidak nyaman dan kemungkinan curigai orang itu bawa virus corona.

Baca Juga: Teori Konspirasi Mengenai Penyakit

Supaya tidak bingung atau cemas terlalu berlebih, yok, pahami tanda-tanda di antara flu biasa dan karena SARS-CoV-2. Baca penjelasannya di bawah ini.

Beda Gejala COVID-19 dan Flu Biasa

Merilis situs Pusat Pengaturan dan Penjagaan Penyakit Amerika Serikat (CDC), COVID-19 dan flu punyai tanda-tanda yang serupa, mempunyai bermacam tingkat sinyal dan tanda-tanda, dimulai dari tanpa ada tanda-tanda (asimtomatis) sampai tanda-tanda yang kronis.

Tanda-tanda umum COVID-19 dan flu mencakup:

  • Demam atau menggigil
  • Batuk
  • Napas sesak atau kesusahan bernapas
  • Kecapekan
  • Sakit kerongkongan
  • Hidung berair atau mampet
  • Ngilu otot atau ngilu badan
  • Sakit di kepala

Sebagian orang dapat alami muntah-muntah dan diare, meskipun tanda-tanda lebih umum dirasakan beberapa anak

Di bawah ini ialah beberapa hal yang penting diingat untuk membandingkan tanda-tanda flu biasa dan COVID-19.

  1. Lihat tanda-tanda demam yang tampil

Merilis BBC, banyak orang yang terkena virus corona mempunyai sekurang-kurangnya satu diantara tanda-tanda umum di bawah ini:

Temperatur yang terarah tinggi

Alami batuk terus-terusan

Kehilangan atau perombakan pada indra perasa dan penciuman

Jika alami demam, apa itu karena infeksi SARS-CoV-2?

Temperatur yang terarah tinggi bermakna 37,8 derajat Celcius ataupun lebih. Demam semacam ini dapat berlangsung waktu badan sedang berperang menantang infeksi, tidak hanya virus corona.

Paling bagusnya, ukur temperatur badan dengan termometer. Jika tidak ada, check jika diri kamu atau orang yang demam rasakan panas waktu sentuh dada atau punggung.

Meskipun demam ialah tanda-tanda utama pada COVID-19, tapi itu juga bisa karena flu atau infeksi yang lain. Tetapi, jika flu, umumnya demam yang dibuat tidak tinggi.

Jika berprasangka buruk terjangkit COVID-19, selekasnya kontak sarana service kesehatan untuk lakukan test.

  1. Cermati jika tampil napas sesak

Merilis Harvard Health Publishing, salah satunya tanda-tanda COVID-19 ialah napas sesak atau kesusahan dalam bernapas. Napas sesak merujuk pada napas terengah-engah secara mendadak atau kekurangan napas. Pertanyaannya, kapan napas sesak harus dicemaskan?

Ada beberapa contoh napas sesak yang tidak beresiko. Misalkan waktu berasa kuatir, ini umum berlangsung akan raib sendirinya jika telah tenang. Tetapi, jika kamu berasa napas sesak atau kesusahan mengisap udara setiap saat memaksain diri, seharusnya selekasnya kontrol ke dokter, baik di periode wabahk saat ini atau sesudah wabahk ini usai.

Saat itu, penting untuk dikenang bila napas sesak ialah adalah salah satu tanda-tanda yang dirasa, tanpa batuk atau demam, peluang pemicunya ialah kecuali COVID-19.

  1. Siaga waktu munculnya tanda-tanda atau jika tanda-tanda yang dirasa tinggal dan/ataupun lebih kronis

Salah satu perihal yang membuat COVID-19 susah dimengerti ialah gempurannya yang berbeda pada setiap orang. Ada yang tanpa ada tanda-tanda, sesaat yang lain — bahkan juga ke orang yang sehat dan relatif muda — alami sakit kronis atau dapat sampai wafat. Merilis Harvard Health Publishing, ini kemungkinan ada hubungan dengan interferon.

Studi terkini memperlihatkan jika sampai 14 % beberapa orang yang mengembangkang tanda-tanda COVID-19 kronis mempunyai tanggapan interferon yang tidak adekuat. Pada sebagian orang, ini muncul karena antibodinya secara salah menyerbu dan menetralisir interferon mereka. Pada sebagian orang yang lain mempunyai perubahan genetik dan menahan badan menghasilkan cukup tipe interferon spesifik.

Alasan khusus yang lain mengenai ketidaksamaan tingkat keparahan penyakit COVID-19 terkait dengan mekanisme kebal. Jika mekanisme kebal tidak mati sesudah virus dikontrol, itu menjadi overdriver. Mengakibatkan, berlangsung tanggapan infeksi yang intensif dan semakin makin tambah meluas yang menghancurkan jaringan di semua badan. Ini kerap dikatakan sebagai badai sitokin.

Merilis CDC, baik flu biasa atau COVID-19, satu hari ataupun lebih dapat berakhir di antara seorang yang terkena dan saat ia mulai alami tanda-tanda.

Pada COVID-19, perlu waktu semakin lama untuk meningkatkan tanda-tanda dibanding bila mereka diserang flu.

Pada flu, umumnya tanda-tanda akan tampil 1-4 hari sesudah infeksi. Sesaat pada COVID-19, umumnya seorang akan meningkatkan tanda-tanda 5 hari sesudah terkena, tapi tanda-tanda dapat tampil tercepat dua hari sesudah infeksi atau paling lamban 14 hari sesudah infeksi, dan bentang waktunya dapat beragam.

Apa tanda-tanda COVID-19 dapat lebih buruk dengan sesudah hari-hari sakit?

Tanda-tanda biasanya ialah demam, batuk kering, kecapekan, raibnya kekuatan perasa, penciuman, dan ngilu badan. Pada sebagian orang, COVID-19 mengakibatkan tanda-tanda lebih berat seperti demam tinggi, batuk kronis, dan napas sesak yang kerap mengisyaratkan pneumonia.

Seorang kemungkinan mempunyai tanda-tanda enteng sepanjang satu minggu, lalu lebih buruk secara cepat. Jika ini berlangsung, selekasnya kontrol ke dokter, atau jika ada tanda-tanda misalnya: susah bernapas, ngilu atau desakan konsisten di dada, ketidaktahuan atau ketakmampuan untuk menyadarkan orang itu, dan bibir atau muka kebiruan.

  1. Raibnya kekuatan indra pengecap dan penciuman

Penting diingat, pada flu, tidak ada perombakan atau kehilangan kekuatan indra perasa dan indra penciuman.

Menurut satu studi yang dikerjakan oleh team periset dari University College London, Inggris, raibnya kekuatan indra penciuman dan perasa kemungkinan lebih reliabel selaku tanda COVID-19 daripada batuk atau demam.

Studi itu mendapati, pada 590 orang yang kehilangan kekuatan penciuman atau pengecap, 80 % dari mereka mempunyai anti-bodi virus corona.

  1. Tanda-tanda dapat tampil dari rutinitas yang beresiko pada penyebaran COVID-19

Misalkan melancong ke luar rumah tidak gunakan masker, ke tempat dengan keramaian orang, melancong ke wilayah dengan tingkat masalah tinggi, atau berhubungan dengan pasien positif.

Melancong dan mendatangi tempat di mana beberapa orang bergabung beresiko menyebarkan virus corona, sama seperti yang dicatat oleh David J Cennimo, MD, FAAP, FACP, AAHIVS dari Rutgers New Jersey Medical School, Amerika Serikat, di situs Medscape.

Itu beberapa poin ketidaksamaan tanda-tanda flu biasa dan COVID-19. Jika kamu berprasangka buruk terjangkit dan alami tanda-tanda, selekasnya kerjakan karantina mandiri, kontak sarana service kesehatan paling dekat, katakan keadaanmu, dan kerjakan test untuk menentukannya.

Pemerintahan lewat Unit Pekerjaan Pengatasan COVID-19, mengadakan kampanye 3M: pakai Masker, Menghindar keramaian atau menjaga jarak fisik, dan rajin Membersihkan tangan sama air sabun yang mengucur. Bila prosedur kesehatan ini dikerjakan dengan disiplin, diinginkan bisa memutuskan mata rantai penyebaran virus. Jalankan pola hidup 3M, akan membuat perlindungan diri kita dan orang di seputar kita.